Sejarah

Sebelum Rumah Sakit  Muhammadiyah Babat berdiri seperti sekarang ini, sekitar tahun 1968 beberapa pimpinan Ranting Muhammadiyah Babat Barat berinisiatif untuk mendirikan sebuah POLIKLINIK ISLAM Asuhan Muhammadiyah Ranting Babat Barat bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKHMI) HMI Cabang Surabaya. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Babat Barat waktu itu ketuanya adalah A. Zaenuri, pengurus Pembina adalah Alm Bpk Suryadi (ketua), Alm Bpk H. Abdul Rosyid (bendahara), Alm Bpk Anas Adenan (wakil bendahara), Alm Bpk. Kuswareh (sekretaris).

Pendirian POLIKLINIK ISLAM Asuhan Muhammadiyah Babat Barat tersebut mendapatkan persetujuan dari pimpinan PKU Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur yaitu Alm Bpk. Dr Moh Soeherman dengan dokter penanggung jawabnya adalah Alm. Dr. Soejitno. Pada awal kegiatannya POLIKLINIK ISLAM Asuhan Muhammadiyah Babat Barat menyewa rumah Alm. Bpk. H. Dardak di jalan pendidikan Babat, kemudian pindah lagi menyewa rumah Alm. Bpk H. Abdul Rosyid di jalan pendidikan. Pada tanggal 21 Juli 1968 dilakukan pembukaan POLIKLINIK ISLAM Asuhan Muhammadiyah Babat Barat dengan mengadakan pengobatan massal secara gratis kepada masyarakat yang diikuti kurang lebih 300 pasien/peserta.

Praktek dokter dibuka pada hari Sabtu sore/malam dan dilanjutkan pada hari Ahad pagi/siang, sedangkan pada hari lainnya ditangani oleh seorang mantri yaitu Alm. Bpk Ngadimin, kemudian dilanjutkan oleh Alm. Bpk R. Soehoed. Sedangkan yang menjadi tenaga pelaksana adalah :

Alm. Bpk. Mufid sebagai ketua pelaksana.

Achadiyah Purwaningsih bagian keuangan.

Suwarni bagian obat.

Alm. Bpk. Wardoyo bagian loket/pendaftaran.

Subandi pembantu mantri.

Selang kurang lebih 2 (dua) tahun kemudian ibu-ibu Aisyiyah Cabang Babat yang diketuai oleh Ibu Maisyaroh berinisiatif mendirikan BKIA/Rumah Bersalin dengan menempati/meminjam rumah Alm. Bpk H. Mudjayin yang berada di jalan Raya Babat, kemudian pada tanggal 1 Maret 1973 BKIA/Rumah Bersalin pindah dengan menyewa rumah Alm. Bpk Achmad Syukri selama 2 (dua) tahun yang berada di jalan Raya Babat.

Pengoperasian BKIA/Rumah Bersalin dibawah tangung jawab dokter puskesmas Babat yaitu dr. Ismuhadi, dengan tenaga pelaksana sebagai berikut : Ninik Iswahyudi Bidan, Sunifah & Musyasaroh pembantu bidan.

Pada pertengahan tahun 1973 Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat berhasil membeli sebidang tanah (± 1425m2) di jalan KHA Dahlan Babat. Dan selanjutnya oleh Pimpinan PKU Wilayah pengelolaan BP, BKIA/RB diserahkan kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat. PCM Babat kemudian mendelegasikan kepada 3 (tiga) orang untuk mengelola BP yaitu:

Zaenal Mas’ud (alm) sebagai PJS Ketua Pelaksana.

Abdul Choliq Sunhaji bagian administrasi.

Mahfud Aly Pasha bagian keuangan.

Selain mengangkat 3 (tiga) orang sebagai pengelola BP, PCM Babat mengangkat koordinator keuangan yang dipegang oleh Alm. Bpk H.A. Wasil Maksum. sekitar tahun 1975 diatas tanah seluas (± 1425m2) di jalan KHA Dahlan Babat Pimpinan Cabang Muhammadiyah Babat dengan modal tekad dan semangat amar makruf nahi mungkar Pimpinan PKU Cabang Babat saat itu (H. A.Zaenuri) beserta jajaran Muhammadiyah (Pemuda Muhammadiyah, Ibu-ibu Aisyiyah) dengan didukung oleh warga dan aghniyah yang ada di babat mulai mendirikan bangunan berukuran 12 X 16m.

Bangunan baru tersebut nantinya akan diperuntukkan untuk BP, BKIA/RB, dan kebetulan tempat yang dipakai sebelumnya sudah habis sewanya maka digabunglah menjadi satu menjadi BALAI KESEHATAN ISLAM BABAT (BAKIS BABAT) yang peresmiannya dilakukan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyuah Jawa Timur yaitu Alm. Bpk. H. Anwar Zain, dihadiri juga oleh Ketua PKU Wilayah yaitu Bpk. Dr. Muhtadi. Selanjutnya sesuai dengan perkembangan dan kemajuan yang dicapai, maka sekitar tahun 1981 PCM Babat mengangkat dr. Moh Thohir HS, sebagai dokter penanggung jawab BAKIS BABAT.

Perkembangan selanjutnya layanan yang disediakan oleh BAKIS BABAT semakin bertambah banyak dengan menambah beberapa poli spesialis antara lain poli spesialis paru, poli spesialis kandungan, poli spesialis anak, poli spesialis mata dan poli gigi, serta didukung dengan penambahan peralatan penunjang medis, tenaga ahli gisi, tenaga apoteker, tenaga analis kesehatan dan tenaga akuntansi. Maka mulailah BAKIS BABAT membuka layanan rawat inap yang diawali dengan 5 tempat tidur. Kemudian dikembangkan lagi menjadi rumah sakit Muhammadiyah Babat dengan menambah jumlah tempat tidur sebanyak 50 tempat tidur.

Tinggalkan Balasan