Mendamba Generasi Penyejuk Hati

Sabtu, 1 Muharrom 1436 H, bertepatan dengan tanggal 25 Oktober 2014 M diselenggarakan Seminar Parenting bertema “Membentuk Generasi Penyejuk Hati”. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Milad ke-105 Muhammadiyah ini diikuti oleh 115 peserta. Kebanyakan dari mereka adalah Kepala Sekolah dan Guru TK Aisyiyah se-Surabaya. Terhitung ada 80 peserta dari TK, 28 dari SD, SMP, dan umum, serta 7 dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Surabaya.

Forum Seminar Parenting ini diselenggarakan oleh Lazismu Kota Surabaya dengan Smart Character Indonesia (SCI) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya. Tujuannya adalah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bagaimana pendidikan karakter itu ditanamkan sejak dini. Ada tiga narasumber yang menjadi pembicara. Najib Sulhan, M.A. menyampaikan tentang pola pengasuhan menurut al-Qur’an dan al-Hadist. Drs. Achmad Sudja’i menyampaikan materi kunci sukses dalam membentuk karakter anak. Sedangkan Ir. Sudarusman, menyampaikan tanggung jawab sekolah dalam melihat potensi anak. Bertindak sebagai moderator adalah Aksar Wiyono.

Pelaksanaan Seminar Parenting berjalan lancar dan cukup ‘gayeng’. Acara diawali dengan sambutan oleh Musa Abdullah selaku Ketua Panitia Milad ke 105 Muhammadiyah PDM Surabaya. Dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lazismu Surabaya, Syamsun Ali, M.A., diakhiri dengan sambutan dari Drs. Zayyin Chudlori, M.Ag selaku Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya.

Ada empat model perilaku anak menurut pandangan al-Qur’an. Pertama, ada anak sebagai penyejuk hati bagi orang tua. Kedua, ada anak sebagai hiasan bagi orang tua. Ketiga, ada anak sebagai fitnah bagi orang tua. Keempat, anak sebagai, musuh bagi orang tua. Semua orang tua berharap anak yang menjadi penyejuk hati, namun faktanya perilaku anak-anak sekarang tidak sesuai dengan harapan. Berdasarkan berbagai penelitian, kasus narkoba, pornografi dan pornoaksi telah melanda anak dan remaja.

Menurut Najib Sulhan, masa remaja, usia 12 sampai 22 tahun merupakan usia ledakan, masa sosial, masa ingin mengenal lawan jenis dan ingin dikenal oleh lawan jenis. Namun yang perlu mendapat perhatian bahwa masa ledakan bermula dari usia model, usia meniru, usia 7 sampai 12 tahun. Begitu juga masa model diawali dari usia tanam, yaitu umur 0 sampai 7 tahun. Pada usia tanam, anak tidak pernah bertanya benar atau salah terhadap apa yang dilihat dan apa yang didengar. Semua terserap dan tersimpan di dalam memori jangka panjang. Suatu saat pengalaman itu akan muncul kembali tergantung dari pemantiknya. Semua pengalaman anak berangkat dari penglihatan, pendengaran, dan hati. Apa yang dilihat dan didengar tidak akan hilang. Untuk itu ada dua kata kunci yang perlu diperhatikan oleh orang tua, yaitu keteladanan dan komunikasi yang efektif.

Sementara Achmad sudja’i yang mempunyai pengalaman mengasuh 9 orang anak memberikan kiat sukses dalam membentuk karakter anak. Pertama, kekuatan paradigma. Pandangan tentang anak harus diluruskan. Jika pandangannya baik terhadap anak, maka anak akan berkembang dengan baik. Sebaliknya, jika pandangannya kurang baik, maka semakin hari akan dijumpai keburukan anak. Kedua, Kekuatan cinta yang meliputi cinta dalam keluarga, cinta melalui pengalaman, dan cinta melalui keteladanan. Ketiga, kekuatan doa. Doa menjadi kekuatan yang sangat penting. Apapun yang terjadi pada anak, jika orang tua tulus dalam mendoakan anak, maka apa yang diminta akan dikabulkan Allah.

Ir. Sudarusman menyoroti tentang peran sekolah dalam membangun komitmen bahwa setiap anak cerdas. Dengan menayangkan sebuah video Sudarusman mengulas tentang segala potensi yang dimiliki oleh anak. Anak mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sekolah harus mampu membuat peta kemampuan pada anak. Dengan mengetahui peta kemampuan, maka anak akan berkembang sesuai dengan potensi yang ada.

Kegiatan yang semula direncanakan mulai dari jam 9 hingga 12 menjadi bertambah hingga jam 12.45. itupun karena permintaan peserta seminar yang merasa masih kurang. Mereka banyak yang bertanya bahkan konsultasi terkait dengan pola pengasuhan di rumah maupun di sekolah. Hampir semua peserta menginginkan kegiatan ini ada tindak lanjutnya. Beberapa komentar peserta pun terangkum, sebagai berikut;
“Pengetahuan ini penting sekali untuk diberikan kepada guru dan orang tua”
“Masukan, agar acara ini bisa turun ke ranting-ranting”
“Semoga ada seminar lanjutan untuk guru-guru PAUD dan TK”
“Tolong acara seperti ini juga ditujukan kepada semua guru SMP dan segera direalisasikan.”
“Saat ini pendidikan karakter yang sering didengungkan. Sebagian besar guru belum paham cara membentuk karakter anak, maka perlu pendalaman ilmu. Dengan adanya seminar ini kita bisa diskusi cara penyelesaian masalah yang kita temukan di masyarakat”. (NS-RED).

Entri ini ditulis dalam Tak Berkategori oleh admin. Buat penanda ke permalink.

Tinggalkan Balasan